.post img{opacity:.5;filter:alpha(opacity=100); this.style.opacity=1} .post img:hover{opacity:1;filter:alpha(opacity=1); this.style.opacity=6}

Kamis, 03 Mei 2012

0 Sang Legenda Reggae Tanah Air


Jangan Lupa Tinggalkan Komentar Kalian Ya...!!!

Sang Legenda Reggae Tanah Air





Lelaki bernama asli Urip Ariyanto ini selalu tampil di depan publik dengan gaya ”kebesarannya”, rambut gimbal serta topi, baju, dan celana berwarna bendera Jamaika. Gaya ”rastafarian” ini memang mengacu pada gaya pemusik reggae Bob Marley. Banyak yang menafsir, ia pengikut Bob Marley yang mencintai kebebasan berekspresi. Tetapi, Mbah Surip begitu sapaanya menyangkal. ”Saya malah tidak tahu kalau musik yang saya mainkan itu namanya reggae, ha-ha-ha,” tuturnya.Asal tahu, menurut pengakuan Mbah Surip, sejak dulu sampai sekarang, ia sedang belajar salah. ”Kalau belajar benar itu sudah biasa, saya sedang belajar salah….” Maka itu, sangat tidak mungkin mengejar kata ”belajar salah” pada Mbah Surip. Lelaki yang dulu menggelandang dalam arti sesungguhnya, antara Bulungan, Jakarta Selatan; Taman Ismail Marzuki (TIM); dan Pasar Seni Ancol, ini ibarat pasir pantai. Kalau kita menggalinya lebih dalam, tak lama kemudian air laut menutupinya.
Begini, misalnya. Dalam banyak kesempatan, Mbah Surip bercerita, ia pernah kuliah di Jurusan Kimia Universitas Petra, Surabaya. Dan, karena itu kemudian, katanya, ia bekerja pada pengeboran minyak di Amerika, Kanada, Jordania, Jepang, Filipina, dan Singapura. Bahkan, saat ke Jakarta tahun 1975 untuk ujian bekerja di pengeboran itu, ia juga sempat menonton konser Deep Purple.
Saat berada di Amerika sekitar tahun 1986 itulah konon ia menciptakan lagu ”Tak Gendong”. ”Saya ada di bawah jembatan itu,” ujar Mbah Surip. Ia bermaksud mengatakan jembatan Golden Gate, San Francisco, yang terkenal itu. Mungkin? Bisa jadilah…. Tetapi, dengan ”Tak Gendong”, ia ingin mengatakan bahwa hakikatnya manusia itu selalu hidup bersama.

Together…,” kata si Mbah.
Kepada media, Mbah Surip juga selalu mengatakan, ia lulusan master Filsafat, tetapi bergelar MBA dari sebuah universitas. He-he, sekali lagi tak pernah jelas universitas mana yang memberi gelar master Filsafat denganmaster of business administration alias MBA itu.
Soal rambut gimbal itu, ia memiliki cerita beberapa versi. Versi pertama, ia sebutkan bahwa rambut itu dibuat dengan cara memilin dan memanaskannya pada pelat seng di atas kompor minyak tanah. Versi kedua, tahun 1998 saat ia shooting televisi untuk album perdananya, Ijo Royo-royo, para seniman Ancol mendandaninya supaya tampil beda. Rambutnya disiram cat lalu dipilin dan diikat dengan benang. Sampai kini memang rambutnya masih diikat benang wol.
Farid Wahyu DP, asisten yang selalu mengantar Mbah Surip ke berbagai acara, bercerita, rambut ”Simbah” selalu dicuci tiga hari sekali, ”Dengan sampo kucing.” Itu cerita ”ganjil” yang lain lagi… ha-ha-ha.

Meroket
“Tak gendong..ke mana-mana..Tak gendong ke mana-mana..Enak tau..Hahaha…” Potongan lirik lagu tersebut mungkin sering Anda dengar belakangan ini. Ya, itu adalah tembang dari penyanyi pendatang baru di dunia rekaman Mbah Surip yang menggebrak dunia musik di Tanah Air lewat aliran Reggae ala Bob Marley. Lagu berjudul “Tak Gendong” mampu membuat popularitas Mbah Surip meroket, padahal sebelumnya ia bukanlah siapa-siapa, hanya seorang seniman jalanan.
Seniman rendah hati
Mbah Surip memberikan fenomena tersendiri. Mbah Surip dengan single-nya Tak Gendong, mematahkan dominasi anggapan publik tentang glamornya dunia entertainment.
Meminjam diskursus dekonstruksi ala Derrida, Mbah Surip membabat logosentrisme. Ikon besar dunia musik sebagai dunia anak muda, penuh hura-hura, retorika selebritas, penampilan fisik yang gemerlap, dihancurkannya dengan tertawa khas dan lontaran kalimat sederhananya : I love you full….
Mbah Surip sebenarnya cukup lama malang-melintang di dunia musik. Ketika itu, dengan kesederhanaan dan kenyelenehannya, mesin industri musik menganggap Mbah Surip tidak punya selling point.
Penulis pernah menyaksikan sosok Mbah Surip menyanyi pada awal era 1990-an. Sungguh sebuah perjalanan panjang ketika sekarang, Mbah Surip hadir dengan aroma selebritasnya. Kakek rambut gimbal itu mulai memetik buah perjuangannya.
Tapi yang patut dicermati, gaya hidupnya tetap seperti orang biasa, tak mengenal protokoler selebritas. Lihat! Selesai manggung di sebuah acara televisi, Mbah Surip pulang naik ojek.
Satu hal, Mbah Surip, bangga dengan keriput dan postur tubuh rentanya. Sesuatu yang given, dibiarkan tanpa ada niatan untuk mengubah atau menolaknya. Dalam skala kecil, bisa saja, Mbah Surip ke salon, memperbaiki keriputnya atau facial dan menata ulang gimbalnya.
Atau membeli kostum mewah ala selebritis saat ini. Semua itu tidak dilakukan Mbah Surip. Penulis mengamati dalam sebulan terakhir, Mbah Surip live show di beberapa stasiun televisi, kostumnya tetap sama. Agaknya, kakek kreatif itu agak susah diatur penyedia kostum pihak stasiun televisi. Itulah Mbah Surip!
Kesuksesan itu sejujurnya adalah sesuatu yang given pada saat yang tepat. Tak layak siapapun ‘durhaka’ terhadap kesuksesan itu sendiri atau malah men-tuhan-kannya.

Telah berpulang
Mbah Surip, penyanyi lagu fenomenal “Tak Gendong” itu meninggal dunia dalam perjalanan ke Rumah Sakit Pusat Pendidikan Kesehatan (Pusdikkes), Kramat Jati Jakarta Timur, pada Selasa sekitar pukul 10:30 WIB.
Setibanya di RS Pusdikkes Jakarta Timur, penyanyi beraliran Reggae ala Bob Marley itu tidak tertolong lagi oleh para dokter yang menanganinya.

Komedian Budi Anduk menganggap perjuangan hidup Mbah Surip sama seperti dirinya, dari bawah.”Mbah Surip itu seniman sejati banget, dia perjuangannya sama dengan gue, mulai dari awal. Tapi masih lama dia perjuangannya,” kata Budi,
Budi pun sempat mengobrol dengan musisi gimbal itu. Obrolan mereka saat itu seputar karir dan kehidupan Mbah Surip. Meski sebentar, banyak hal penting yang didapat Budi di obrolannya itu.
Budi mengenal Mbah Surip sejak tahun 90-an ketika ia masih menjadi pembantu umum kru film. Bahkan saat itu, Budi mengaku sudah mengidolakan Mbah Surip.
“Itu sudah jadi idola gue banget. Gue nggak tahu mau ngelakuin apa, yang penting doanya aja,” lanjut Budi.

Layak jadi legenda
Mbah Surip memang baru ngetop dengan lagu ‘Tak Gendong’ miliknya. Namun menurut Tommy Kurniawan, sosok Mbah Surip sudah pantas dijadikan legenda musik Indonesia seperti Chrisye.
Alasannya karena perjuangan Mbah Surip untuk setenar seperti ini tidak dalam sekejap. Butuh waktu puluhan tahun, namun Mbah Surip bisa membuktikan kalau ia mampu sejajar dengan musisi kondang Indonesia lainnya.
“Mbah Surip itu seniman yang rendah hati, selalu merendah dan apa adanya. Dia
tetap berusaha mencapai impiannya. Dia benar-benar musisi yang berjuang dengan pure (murni-red). Dia pantes dijadikan legenda musisi Indonesia karena perjuangannya,”  kata Tommy
Tommy mengenal Mbah Surip sebelum lagu ‘Tak Gendong’ setenar sekarang. Bahkan ia mengaku pernah bermain musik bersama penyanyi berambut gimbal itu. Tommy pun banyak memetik manfaat dan inspirasi dari lagu sesederhana ‘Tak Gendong’.
“Gimana nggak, lagu itu diciptakan tahun 83-an dan baru dibuatkan album saat-saat ini. Itu kan butuh pengorbanan,” papar Tommy.

Bukan hanya di kalangan artis saja yang menyatakan bela sungkawa bahakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Mbah Surip, ia berharap semangat berkesenian almarhum bisa terus dilanjutkan.
“Saya mendengar Mbah Surip meninggal dunia dan saya ikut berbelasungkawa dan mendoakan semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan sesuai amal baktinya,” kata Presiden dalam Jumpa Pers di halaman kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa (4/8).
Menurut Presiden SBY, Mbah Surip yang meninggal di usia 60 tahun adalah seniman yang hidup dengan sederhana dan mencurahkan hidupnya dalam berkesenian sesuai caranya sendiri. “Saya harapkan paguyuban musik dan Pemda membantu pemakaman Beliau,” katanya.
Presiden SBY mengatakan, sosok seperti Mbah Surip ini bisa memberikan pelajaran berharga dalam semangat menekuni bidang tertentu seperti di bidang kesenian.

0 komentar:

Posting Komentar